Tampilkan postingan dengan label Way Haru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Way Haru. Tampilkan semua postingan

Lampu Hijau untuk Infrastruktur Way Haru, Bupati Pesibar Serahkan PKS ke BBTNBBS

Mei 19, 2025

 


Pesisir Barat – Bupati Pesisir Barat (Pesibar), Dedi Irawan, melakukan kunjungan resmi ke Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) di Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Senin (19/5/2025). Kunjungan tersebut bertujuan untuk menindaklanjuti upaya pembukaan akses menuju wilayah Way Haru, yang selama ini masih terisolasi.


Dalam pertemuan tersebut, Bupati Dedi Irawan menyerahkan konsep rancangan Perjanjian Kerja Sama (PKS) terbaru antara Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat dengan BBTNBBS, sebagai bagian dari langkah konkret pembangunan jalan dan jembatan menuju empat pekon di wilayah Way Haru.


Kedatangan Bupati disambut langsung oleh Kepala BBTNBBS, Hifzon Zawahiri, beserta jajaran pejabat terkait, seperti Kabid Teknis Konservasi Tegus Ismail, Kabid Pengelolaan TN Wilayah I Semaka Hermawan, dan Kasi Pengelolaan TN II Bangkunat Jimmy Fonda. Turut mendampingi Bupati, sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Pesibar.


Dalam kesempatan tersebut, Bupati Dedi Irawan menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen penuh untuk membuka keterisoliran Way Haru. Ia menekankan pentingnya sinergi dan koordinasi intensif antara Pemkab Pesibar dan BBTNBBS demi mewujudkan cita-cita tersebut.


“Pemkab Pesibar sangat berharap BBTNBBS dapat mendukung secara optimal agar upaya membuka akses menuju Way Haru segera terwujud,” ujar Dedi Irawan.


Lebih lanjut, Dedi Irawan memastikan kesiapan pemerintah daerah dalam memenuhi seluruh tahapan dan persyaratan administratif sesuai prosedur yang berlaku. “Pembangunan akses jalan dan jembatan tidak akan mungkin dilaksanakan tanpa izin dari pemerintah pusat. Maka, kami siap mengikuti seluruh proses yang telah ditetapkan,” tegasnya.


Menanggapi hal tersebut, Kepala BBTNBBS Hifzon Zawahiri menyatakan dukungannya terhadap inisiatif Pemkab Pesibar. Ia juga menginformasikan bahwa perbaikan jembatan gantung di Way Pemerihan bisa dimulai tahun ini dengan mengacu pada PKS lama yang masih berlaku.


“TNBBS pada dasarnya mendukung penuh terkait pembukaan akses menuju Way Haru. Kita akan berupaya bersama dengan Pemkab Pesibar untuk mewujudkan hal ini,” kata Hifzon.


Sebagai tindak lanjut, BBTNBBS akan segera meneruskan rancangan PKS yang telah diajukan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dengan harapan masyarakat Way Haru segera menikmati akses yang layak dan terbebas dari keterisolasian. (*) 

Bupati Pesisir Barat Temui Tomy Winata, Bahas Isu Way Haru hingga Upaya Konservasi

Mei 04, 2025

 


Jakarta – Bupati Kabupaten Pesisir Barat, Dedi Irawan, bersama Wakil Bupati Irawan Topani, bersilaturahmi langsung dengan Tomy Winata selaku pimpinan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (04/05).


Pertemuan tersebut menjadi kehormatan sekaligus membuka harapan baru bagi terjalinnya kolaborasi antara TWNC dan Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat, khususnya dalam mendukung kepentingan masyarakat di wilayah Way Haru dan sekitarnya.


Dalam pertemuan tersebut, Dedi Irawan menekankan bahwa keberadaan TWNC yang selama ini fokus pada pelestarian alam dan perlindungan satwa liar memiliki potensi besar untuk mendorong kesejahteraan masyarakat melalui program-program konservasi yang berbasis pemberdayaan.


“Dengan semangat gotong royong dan saling pengertian, kami ingin memastikan bahwa pembangunan di Pesisir Barat, terutama di wilayah terluar seperti Way Haru, mampu menjawab kebutuhan masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian alam,” ujar Dedi Irawan.


Pemerintah Kabupaten berharap sinergi yang terbangun dapat menjadi langkah awal menuju masa depan yang lebih baik, di mana konservasi dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan berdampingan.


Di akhir pertemuan, Dedi Irawan menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat dan komitmen Tomy Winata, serta berharap agar pertemuan ini segera ditindaklanjuti dengan program nyata yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Pesisir Barat. (*) 

Pilu Way Haru: Ketika Alam Lebih Berhak Hidup Daripada Manusia yang Terlupakan

April 18, 2025

 


Pesisir Barat, 18 April 2025 - Potret haru terus menghiasi perjalanan hidup masyarakat di daerah terisolir wilayah Way Haru, Kecamatan Bangkunat, Kabupaten Pesisir Barat. Salah satu Kepala Desa dari empat desa yang ada di wilayah tersebut harus ditandu sejauh 12 Kilometer melalui medan ekstrem melewati bukit, laut, lembah, hingga menyebrangi muara berarus deras, hanya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas terdekat akibat sakit yang dideritanya.


Yakni Kepala Desa Bandar Dalam, Rudi Meilano, pada Jumat 18 April dengan menggunakan tandu yang terbuat dari batang bambu dan seutas kain, warga Desa Sumber Rejo berbondong-bondong menggotong Rudi dengan berjalan kaki selama empat jam lebih secara bergantian. Hal ini terpaksa dilakukan akibat tidak adanya akses jalan yang menghubungkan wilayah Way Haru menuju pusat kota Kecamatan Bangkunat. 


Kerabat Rudi, Dian Setiawan menyebut, pihaknya tak mempunyai pilihan lain selain menerjang ganasnya kondisi alam untuk mencapai fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, guna mengobati kondisi sang kerabat. Menurut Dian, kondisi ini bukan merupakan hal yang baru bagi masyarakat di wilayah ini, bahkan acap kali warga harus meregang nyawa dalam perjalanan, sebelum mencapai lokasi Puskesmas untuk mendapatkan perawatan. 


Dian berharap, kondisi pilu masyarakat Way Haru dapat membuka kerasnya hati pihak-pihak terkait yang terus mempersulit pembangunan insfrastruktur, yang merupakan mimpi belasan ribu warga setempat dan tak pernah terwujud selama hampir 80 tahun Indonesia merdeka. 


"Diluar sana, masyarakat mungkin telah menikmati manisnya kemerdekaan dengan berbagai kemudahan yang disediakan, sedangkan di wilayah Way Haru untuk merasakan kemerdekaan saja mungkin hanya sebatas mimpi belaka," sebutnya. 


Seperti diketahui, Wilayah Way Haru, Kecamatan Bangkunat, Kabupaten Pesisir Barat, merupakan daerah terisolasi yang dikelilingi Tanam Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) berdekatan dengan Tambling Wildlife Nature Conservation atau disingkat TWNC. 


Wilayah Way Haru dihuni oleh Marga Belimbing yang telah bermukim jauh sebelum Indonesia merdeka, wilayah ini juga telah mendapatkan kedaulatan wilayah sebagai tanah marga sejak jaman penjajahan Belanda. 


Namun demikian, pembangunan infrastruktur yang terus diusahakan Pemerintah Daerah Kabupaten Pesisir Barat terus menuai kendala, sulitnya mendapatkan izin menjadi pagar pembatas pemerintah kabupaten untuk memulai pembangunan. Al hasil, masyarakat Way Haru harus merasakan penderitaan pedih dan hanya dapat menerima kenyataan pahit, karena wilayahnya hingga kini masih terisolasi dari nikmatnya hidup diatas tanah merdeka. 


Tak ada jalan, listrik, pelayanan kesehatan dan pendidikan yang layak, hingga signal internet yang memadai, mengharuskan masyarakat Way Haru bermukim dengan masa depan yang gelap gulita. Menurut informasi, pihak terkait seperti BBTNBBS, Kementerian Kehutanan, TWNC, serta instansi lainnya, mempersulit izin dengan alasan pelestarian alam dan hewan dapat terganggu, sehingga mengesampingkan rasa kemanusian. Dengan alasan ini, akhirnya pihak terkait menunda pemberian izin, dan menjunjung tinggi 'pri kehewanan' serta mengesampingkan pri kemanusiaan, guna melindungi kelestarian alam. (*) 


Hari Pertama Masuk Kerja, Wakil Bupati Pesibar Irawan Topani Langsung Beri Solusi Untuk Akses Masyarakat Way Haru

Februari 24, 2025

 


Pesisir Barat - Wakil Bupati Pesisir Barat (Pesibar), Irawan Topani, S.H., M.Kn., memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) terkait kerusakan jembatan gantung Way Pemerihan Kecamatan Bangkunat di ruang Media Center Lantai 1 Gedung A Komplek Perkantoran Pemkab Pesibar, Senin (24/02/2025).


Jembatan gantung tersebut merupakan jalan penghubung yang menuju empat pekon di Kecamatan Bangkunat diantaranya Pekon Bandar Dalam, Siring Gading, Way Tias dan Way Haru. 


Dalam rapat, Wakil Bupati, Irawan Topani menegaskan bahwa perbaikan jembatan gantung penghubung ke empat pekon tersebut harus menjadi prioritas mengingat fungsinya yang sangat vital bagi mobilitas warga. 


"Khususnya bagi masyarakat yang mengangkut hasil panen dan hasil bumi," ujar Wakil Bupati Pesibar, Irawan Topani. 


Kemudian lanjut Irawan Topani, pihaknya menerima laporan bahwa jembatan gantung ini mengalami kerusakan serius dan membahayakan keselamatan warga. 


"Oleh karena itu, kami akan segera menindaklanjuti dan mencari solusi terbaik agar akses masyarakat tidak terhambat,” jelasnya. 


Wakil Bupati, juga menegaskan bahwa Pemkab Pesibar akan bekerjasama dengan semua pihak terkait untuk memastikan penanganan berjalan lancar dan tepat sasaran. Dengan langkah cepat, diharapkan akses transportasi menuju pekon dapat kembali normal dalam waktu dekat. 


"Dengan begitu, sehingga masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan dalam beraktivitas sehari-hari," tukas Wakil Bupati, Irawan Topani.


Sementara itu, pihak DPUPR mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan survei awal dan mendapati bahwa struktur jembatan mengalami kropos akibat faktor cuaca dan usia pemakaian. 


Maka dari itu, rencana perbaikan jembatan gantung yang merupakan akses penghubung menuju empat pekon di Kecamatan Bangkunat tersebut akan segera disusun.


Keputusan rapat menghasilkan beberapa kesimpulan, di antaranya melakukan perbaikan dan membuat jalan alternatif sementara menggunakan rakit untuk penyeberang sungai, serta pengawasan terhadap penyeberangan yang akan dikoordinasikan dengan pemerintahan pekon setempat. (*)