ASSEN — Panggung Moto3 edisi 2026 menjadi ujian psikologis yang masif bagi pembalap muda asal Jepang, Zen Mitani. Memasuki paruh musim berjalan, jawara Asia Talent Cup (ATC) 2024 ini secara terbuka mengakui adanya beban mental berat akibat ketidakmampuannya mengimbangi ritme performa rekan setimnya di Honda Team Asia, Veda Ega Pratama. Kegagalan finis (Did Not Finish/DNF) akibat kecelakaan pada lap ketiga di Grand Prix Belanda, Sirkuit Assen, kian mempertegas jurang pemisah kompetensi di antara sesama pembalap pendatang baru (rookie) tersebut.
Sasis kompetisi di internal Honda Team Asia musim ini sejatinya menempatkan kedua pembalap pada posisi setara. Namun, grafik performa di atas lintasan menunjukkan anomali yang kontras. Di saat Zen Mitani masih tertatih-tatih mencari setelan motor terbaik dan kerap terlempar dari zona poin, Veda Ega Pratama justru tampil meledak-ledak sebagai wonderkid baru sirkuit. Pembalap asal Gunungkidul, Yogyakarta itu bahkan sempat memimpin jalannya balapan di Assen sebelum akhirnya terjatuh, dan kini bertengger kokoh di peringkat ke-7 klasemen sementara Moto3 dengan koleksi dua podium.
Kegagalan total di GP Belanda, di mana tim bentukan Hiroshi Aoyama ini terpaksa pulang dengan tangan hampa, memicu rasa bersalah yang mendalam pada diri Mitani. Ia merasa telah menyia-nyiakan kerja keras para mekanik dan kru sirkuit yang telah meramu performa motornya secara maksimal sejak sesi kualifikasi. Tekanan psikologis Mitani kian berlipat ganda menyusul adanya cedera tangan pasca-insiden crash tersebut, yang memaksanya masuk ke ruang perawatan medis tepat di tengah jeda libur kompetisi.
"Saya merasa sangat tidak enak kepada tim karena semua orang telah bekerja ekstra keras akhir pekan ini. Fokus saya sekarang adalah memeriksa kondisi tangan dan memaksimalkan pemulihan agar bisa kembali lebih kuat di seri berikutnya," ungkap Zen Mitani via rilis resmi tim.
Bagi manajemen Honda Team Asia, jeda musim ini harus dimanfaatkan secara taktis untuk merestorasi kepercayaan diri Mitani. Mengelola ekspektasi publik Jepang dan meredam kecemburuan profesional di dalam garasi menjadi tantangan tersendiri bagi Hiroshi Aoyama. Jika sasis mentalitas Mitani gagal diperbaiki, ketimpangan performa ini tidak hanya merugikan karier sang pembalap, melainkan juga menghambat target tim dalam perebutan poin konstruktor global di kelas ringan Kejuaraan Dunia Balap Motor.
